Showing posts with label Materi Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Materi Pembelajaran. Show all posts

Monday, March 23, 2020

KONSEP EKONOMI HIJAU BY DIO WIRA DHIAMA


NAMA     : Dio Wira Dhiama
NIM         : 3402190328
KELAS    : Manajemen H

KONSEP EKONOMI HIJAU
By Dio Wira Dhiama

                 Ekonomi Hijau adalah sebuah rezim ekonomi yang meningkatkan kesejahteraan manusia dan kesetaraan sosial, sekaligus mengurangi risiko lingkungan secara signifikan. Ekonomi Hijau juga berarti perekonomian yang rendah atau tidak menghasilkan emisi karbon dioksida dan polusi lingkungan, hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial.

                 Sebenarnya banyak sekali cara dan upaya yang bisa dilakukan untuk mewujudkan Ekonomi Hijau di Indonesia, namun dibalik banyaknya cara, kebanyakan masyarakat Indonesia sangat sulit dan malas untuk melakukannya, hingga sampai saat ini Ekonomi Hijau di Indonesia belum terealisasikan dengan optimal.

                 Dalam perkembangan Ekonomi Hijau terdapat dua unsur penting yang harus dibicarakan dan didiskusikan, yaitu ”inklusif secara sosial dan berkelanjutan”, maksudnya apa ? Masyarakat yang inklusif secara sosial didefinisikan sebagai sebuah masyarakat di mana semua orang merasa dihargai, perbedaan mereka dihormati, dan kebutuhan dasar mereka terpenuhi sehingga mereka dapat hidup bermartabat. Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau berusaha merencanakan dan merancang proyek serta kegiatan ekonomi hijau yang dapat secara langsung memberi akses yang lebih baik sehingga berkelanjutan terhadap berbagai layanan dasar dan sumber daya, serta penciptaan lapangan kerja hijau sambil memastikan perlindungan, pengurangan kemiskinan dan inklusi sosial. Segala sesuatu yang kita butuhkan untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan kita, baik secara langsung maupun tidak langsung, bergantung pada lingkungan/alam. Keberlanjutan adalah kondisi di mana manusia dan alam dapat bersama-sama berada dalam keselarasan produktif, yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan sosial, ekonomi dan lainnya, untuk generasi sekarang dan generasi mendatang. Keberlanjutan menjadi penting untuk memastikan bahwa kita memiliki dan akan terus memiliki air, bahan/materi dan sumber daya untuk melindungi kehidupan manusia dan lingkungan.

                 Pentingnya pertumbuhan ekonomi hijau muncul dari keprihatinan tentang konsekuensi sosial, lingkungan dan ekonomi yang tidak diinginkan akibat pertumbuhan penduduk yang cepat, pertumbuhan ekonomi dan konsumsi sumber daya alam. Isu ini menyebabkan dikembangkannya berbagai pendekatan dan mekanisme berbasis sains dan teknologi, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang kuat, namun ramah lingkungan dan inklusif secara sosial.

Alasan utama munculnya konsep ekonomi hijau dan pertumbuhan hijau adalah gerakan menuju pendekatan yang lebih terintegrasi dan komprehensif untuk menggabungkan faktor sosial dan lingkungan dalam proses ekonomi, demi mencapai pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, pertumbuhan hijau (green growth) adalah pertumbuhan ekonomi yang berkontribusi terhadap penggunaan modal alam secara bertanggung jawab, mencegah dan mengurangi polusi, dan menciptakan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan sosial secara keseluruhan dengan membangun ekonomi hijau (green economy), dan akhirnya memungkinkan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Maka, ketiga istilah ini tidak dapat dipisahkan yakni pertumbuhan hijau, ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan.

Seperti yang telah dibicarakan pada paragraf awal, sebenarnya kita sudah menjalankan Konsep Ekonomi Hijau, namun masyarakat Indonesia kurang memperhatikan dan mendukung gerakan tersebut. Kebiasaan buruk masyarakat Indonesia yang sulit dirubah, diantaranya adalah sikap malas, tidak peduli terhadap lingkungan, buang sampah sembarangan, penebangan pohon yang dilakukan secara ilegal, membakar sampah yang menyebabkan polusi udara, dan masih banyak yang lainnya. Selain itu masyarakat Indonesia juga sangat tidak peduli dengan adanya perubahan, kebanyakan dari kita menggunakan prinsip “ Jika orang lain bisa, mengapa harus kita” atau contoh lain ketika kita berada di tempat umum dan melihat sampah yang berserakan di sekitar, pasti ada saja orang yang masih memiliki pemikiran “ Biarkan saja, toh sudah ada petugas sampah yang membersihkannya, biar mereka tuh ada kerjanya”. Sebenarnya masih banyak pemikiran-pemikiran bodoh masyarakat Indonesia selain yang disebutkan itu, dan pesan penting dari saya, kita harus bisa merubah prinsip atau pemikiran itu, dari yang “ Jika orang lain bisa, mengapa harus kita” menjadi “ Jika kita bisa, mengapa harus orang lain” dan sebagainya.

Selain mengubah prinsip/ pola pikir kita sendiri, hal yang harus diperhatikan untuk mewujudkan Ekonomi Hijau di Indonesia yaitu, dengan membiasakan diri dan mendisiplinkan diri kita sendiri tentunya supaya lebih menghargai lingkungan sekitar, menjaga dan melestarikan hingga melakukan apa yang disebut dengan Ekonomi Hijau. Tak hanya itu sebaiknya para orang tua terutama yang memiliki anak kecil, diharapkan untuk mengajarkan konsep Ekonomi Hijau sejak dini, agar anak-anak yang akan jadi penerus bangsa ini nantinya, telah terbiasa dan memahami tentang pengetahuan Ekonomi Hijau. Mengapa demikian? Karena memberikan pengetahuan Ekonomi Hijau kepada anak-anak akan memberikan mereka wawasan dan menjadi kebiasaan yang akan terbawa hingga dewasa nanti, rasa kepedulian terhadap lingkungan dan sosial menjadi faktor penting dalam hidupnya.

Untuk saat pemerintah telah membuat program dalam mengurangi penggunaan sampah plastik, dan salah satu perusahaan telah menjalankan program tersebut. "Aprindo dengan hampir 40.000 toko di Indonesia secara prinsip bersama-sama mendukung program pemerintah dalam pengurangan sampah plastik," ujarnya, Kamis (28/2/2019). Penanganan sampah ini tak hanya dilakukan oleh Indonesia saja tetapi juga tengah ditangani oleh negara lain agar generasi muda mendapatkan kelayakan hidup dari lingkungann yang baik dan terpelihara serta konsisten terjaga. Oleh karena itu, Aprindo sendiri mendeklarasikan diri untuk ikut serta dalam mengurangi sampah plastik dengan mengenakan biaya bagi konsumen yang membutuhkan kantong plastik saat berbelanja di ritel modern.

Adapun besaran biaya yang dikenakan untuk kantong plastik per lembarnya diserahkan kepada masing-masing peritel. Namun yang pasti besaran biaya itu lebih tinggi dari biaya yang pernah diterapkan pada 2016 lalu atau minimal Rp200 per lembar. "Ini juga sebagai edukasi konsumen untuk ikut serta dalam mengurangi sampah plastik. Kalau bisa terus menerus mebawa tas belanja agar menghemat dan tidak menjadi sampah," ucapnya.

Menurut Roy, tak ada yang gratis di dunia ini kecuali udara yang dihirup setiap detiknya. Sedotan ada di restoran pun dikenakan biaya. Apalagi kantong plastik ukuran kecil, sedang, besar yang tentunya dibeli oleh peritel dari para pengusaha plastik.  "Kantong plastik seperti barang dagangan. Konsumen yang butuh kantorng plastik bisa membeli, kalau enggak pakai kantong plastik ya enggak keluar biaya dan bawa saja tas belanja," katanya. Biaya pembelian kantong plastik ini tentu masuk dalam struk belanja. Tentunya dengan pengenaan biaya pada kantong belanja ini akan memberikan konstribusi kepada negara berupa pajak PPN.  Roy berharap dengan kebijakan kantong plastik tidak gratis ini dapat mengubah budaya masyarakat yang akrab sekali dengan kantong plastik tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Sedikit flashback ke masa lalu, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono memaparkan enam langkah yang dapat diterapkan negara-negara berkembang untuk mewujudkan ekonomi hijau, yakni pertumbuhan yang menerapkan prinsip keberlanjutan sekaligus menurunkan emisi guna menghambat pemanasan global.
"Hal paling utama kepemimpinan. Tidak hanya presiden, tapi juga sampai ke menteri dan kepala daerah, semuanya harus kuat dan bersatu," katanya saat menyampaikan pidato sesi bertajuk "The Pathway to a Sustainable Low Carbon and Climate Resilient Economy" di KTT PBB Perubahan Iklim (COP-21) di Le Bourget, Paris, Prancis, Selasa.
Dalam sesi tersebut, SBY yang saat itu menjabat sebagai Presiden Global Green Growth Institute (GGGI) menjadi pembicara bersama Direktur UNEP, Achim Steiner, Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop dan Menteri Perdagangan dan Perubahan Iklim Selandia Baru, Tim Groser.
Menurut SBY, selain faktor kepemimpinan, kebijakan dan regulasi yang kuat dan efektif harus diterapkan dengan tegas.
Strategi ketiga menurut dia adalah investasi sebab sulit bagi negara berkembang untuk meningkatkan perekonomian sekaligus mengurangi kemiskinan tanpa investasi. "Tidak mungkin juga mengurangi emisi dari sektor energi dan lainnya tanpa investasi," katanya menambahkan.
Langkah keempat adalah terkait teknologi. Saat itu kata SBY, teknologi pembangkit listrik tenaga surya atau solar panel sudah tersedia dengan harga murah. Kondisi ini menurut dia adalah harapan baru bagi pengembangan energi terbarukan. Sebab, bila harga teknologi terbarukan masih mahal akan sulit bersaing dengan pemakaian energi dari fosil, khususnya minyak bumi. Sedangkan langkah kelima adalah edukasi, yakni menerapkan pendidikan tentang pelestarian lingkungan sejak dini kepada para generasi penerus. “Edukasi ini sangat penting untuk secara bertahap mengubah kebiasaan masyarakat untuk menghemat energi dan menerapkan gaya hidup hijau. Memang tidak bisa instan karena ini adalah investasi jangka panjang," ujar dia.
Adapun langkah terakhir adalah kerjasama internasional. Menurut SBY, akan sulit bagi negara berkembang memelihara hutannya tanpa dukungan luar negeri.
Apalagi pemerintah Indonesia sudah mengumumkan komitmen kontribusi penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen dengan usaha sendiri pada 2013 dan dapat meningkat menjadi 41 persen dengan bantuan internasional.
"Indonesia harus menjalankannya dengan sungguh-sungguh dan hasilnya memang tidak bisa dirasakan sekarang tapi yakin dan percaya akan memetik hasilnya pada waktu-waktu mendatang," katanya.
Sementara Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop mengatakan bahwa pihaknya bekerjasama dengan Indonesia untuk berbagai program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Khusus untuk penurunan emisi gas rumah kaca kata dia, Pemerintah Australia melalui Australian Aid bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI untuk menciptakan sistem penghitungan emisi karbon dan ke depan akan terus mengembangkan kerja sama.

            Kesimpulan yang dapat kita tarik dan kita petik dari tugas Essai ini tentang Konsep Ekonomi Hijau yaitu, Kita harus bisa mengubah pola pikir dan prinsip hidup kita menjadi lebih baik dari sebelumnya, menjaga kelestarian sumber daya alam kita untuk kehidupan yang mendatang. Berpartisipasi dalam kegiatan Konsep Ekonomi Hijau, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Memberikan wawasan kepada anak-anak dan pemuda penerus bangsa supaya mereka lebih paham dan bisa mengimplementasikan Konsep Ekonomi Hijau ini. Apapun yang kita lakukan harus bisa meminimalisirkan perusakan lingkungan, sebaiknya mengikuti kebijakan pemerintah yang telah ditetapkan, suatu perubahan baik harus bisa kita terima, pastinya berkembangnya zaman akan membawa kita banyak perubahan, banyak peraturan dan banyak hal-hal yang harus diperhatikan. Apapun itu jika memang membawa hal baik untuk kita semua maka dukunglah, karena dukungan kita sangat mempengaruhi segalanya, dari tindakan hal kecil bisa menjadi besar. Pepatah mengatakan “ Apa yang kita tuai, itu yang kita dapat” oleh sebab itu kita harus menanam beribu-ribu kebaikan untuk melestarikan Sumber Daya Alam yang ada, apapun Konsep Ekonomi Hijaunya, pastikan kita bisa merealisasikannya dengan optimal, supaya anak cucu kita nanti bisa merasakan hasil Ekonomi Hijau yang kita lakukan dari sekarang.

Terima kasih kepada Bapak Irfan Nursetiawan, S.Pd., M.Pd., M.Si. yang telah memberikan tugas ini kepada kami semua, dengan tugas ini kami dapat belajar, memahami tentang Ekonomi Hijau dan lebih peduli dengan lingkungan sekitar.

Sekian, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.



                



Friday, January 17, 2020

Makalah Indonesia Berpotensi Menjadi Negara Maju

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Segala puji dan syukur untuk kehadirat Allah swt, yang telah memberikan rahmat dan  karunia-Nya sehingga saya bisa nulis dan post artikel lagi hehe :v

Mager banget dan gaada gairah buat nulis, bingung milih topik dan gaada penyemangat duh..

Mungkin kali ini ga banyak omong, cuman mau share aja sih, bagi ilmu dan bagi tugas siapa tau ada yang butuh dan mau copas wkwk

jadi di postingan kali ini bakal di liatin tuh review dari makalahnya, ntar di kasih file nya juga dah biar simple ga harus edit" lagi, baik banget kan aneee wkwk klik iklan dong makanyaa bantu blogger yang susah iniii :( huhuhu

yak langsung aja sikat nih makalahnyaa yang berjudul " Bisakah Indonesia Mendapatkan Gelar sebagai Negara Maju " dengan tema/ topik karangan " Indonesia Berpotensi Menjadi Negara Maju "

Nih Link downloadnya ... klik di sini


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara berkembang, sebagai negara berkembang indonesia terus melakukan upaya-upaya untuk menjadi negara maju, yaitu dengan terus melaksanakan pembangunan dalam segala bidang kehidupan salah satunya dalam bidang perekonomian. Seiring dengan majunya teknologi yang memudahkan memperoleh informasi dan semakin pesatnya laju pembangunan, perkembangan perekonomian di indonesia pun terus membaik meskipun belum maksimal, meski demikian hal ini akan lebih baik lagi apabila tersedianya sarana dan prasarana yang mampu menunjang keberhasilan pembangunan perekonomian di Indonesia.
Selain itu di berbagai aspek Indonesia memang meiliki potensi yang sangat mendukung untuk menjadi negara maju, hanya saja ketidak mampuan masyarakat dalam merubah sikap individualnya menjadikan Indonesia sulit untuk menggapai gelar sebagai negara maju.
Banyak sebagian masyarakat Indonesia yang sudah memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk memajukan negara, namun semakin hari masyarakat Indonesia memang sulit untuk merubah sikapnya, dari mulai bermalas-malasan hingga ada yang memiliki prinsip “ Jika orang lain bisa, kenapa harus saya.” Sikap itulah yang menjadi halangan bagi negara Indonesia untuk mewujudkan mimpi menjadi negara Maju.



1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, menunjukan bahwa tingkat partisipasi masyarakat rendah, faktor-faktor yang terkait dengan pengaruh terhadap rendahnya partisipasi masyarakat dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Masyarakat Indonesia sulit untuk menjadi manusia yang manusia, dikatakan sepeti itu karena kebanyakan dari kita masih sering menyepelekan suatu hal, contohnya hal kecil yang di anggap sepele padahal mereka tidak tahu bahwa hal kecil itu bisa membuat perubahan yang besar. Jika disebutkan contoh aslinya adalah “ Cara kita membuang sampah”, kita sadar masih banyak orang yang membuang sampah sembarangan, dan memang untuk menghilangkan kebiasaan itu sangatlah susah, tapi bukan berarti tidak bisa dan kita harus mencoba.
2. Dengan sumber daya alam yang melimpah seharusnya Indonesia sangat berpotensi untuk menjadi negara maju, namun masyarakat Indonesia masih belum mampu untuk mengolahnya dengan baik dan benar.

1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Bagaimana cara kita membiasakan diri untuk menjadi yang terbaik diantara yang baik, merubah sikap, etika, dan berbagai hal yang bisa menjadi faktor kemajuan negara. Serta mengolah sumber daya alam dengan baik dan benar agar bisa dimanfaatkan dengan maksimal.”

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Keadaan Bangsa & Negara Indonesia
            Diambil kesimpulan dari lagu yang dinyanyikan oleh Iksan Skuter, lagu yang berjudul Bingung, didalamnya memiliki arti yang sangat luas dan sangat mendasar terhadap permasalahan yang ada pada Negara dan Bangsa Indonesia. Liriknya berbunyi seperti ini :
Kiri dikira komunis
Kanan dicap kapitalis
Keras dikatai fasis
Tengah dinilai tak ideologis

Muka klimis katanya necis
Jenggotan dikatai teroris
Bersurban dibilang kearab-araban
Bercelana levis dibully kebarat-baratan

Diam dianggap pasif
Lantang katanya subversif
Bertani dianggap kuno
Jadi pegawai distempel mental londo

Memilih jadi kere salah
Ingin kaya sangatlah susah
Belum berhasil dihina
Sukses jadi omongan tetangga

Makin hari makin susah saja
Menjadi manusia yang manusia
Sepertinya menjadi manusia
Adalah masalah buat manusia.


            Jika dipahami arti dari liriknya, itu semua sedang menyindir masyarakat Indonesia yang selalu men-judge orang lain. Susahnya membangun sifat menghargai menjadikan masyarakat Indonesia seperti ini. Dan inilah yang termasuk faktor masyarakat Indonesia menjadi penghambat kemajuan negara.
            Masih ada lanjutan liriknya dari lagu tersebut, bisa kita lihat sebagai berikut:
Menjadi bintang ketinggian
Menjadi tanah kerendahan
Jadi matahari gak sanggup
Menjadi bulan terlalu redup

Gedung-gedung ditinggikan
Akal sehat dihancurkan
Sekolah dimahalkan
Ilmu dibuang keselokan

Guru setra sudah digelar
Dalangnya akan berkoar
Lakon sudah disiapkan
Korban-korban pasti dibungkam

Maling sendal dibakar
Koruptop berkelakar
Makin hari makin susah saja
Menjadi manusia yang manusia
Sepertinya menjadi manusia
Adalah masalah buat manusia.

Dilihat dari lirik lanjutannya, pemerintahnya pun sama, memiliki sifat buruk yang harus dirubah, harus dibuat kembali dan harus dibangun bersama. Hukum di Indonesia tidak tegas karena hukum masih bisa dimainkan dengan sejumlah uang, para pidana yang memakan uang rakyat hanya dikurung di penjara mewah bak hotel, namun sebaliknya masyarakat biasa yang memiliki kesalahan tak seberapa malah di sanksi habis-habisan. Oleh karena itu kita patutnya menyadari bahwa hal kecil yang kita sepelekan bisa membuat perubahan besar, dan setelah tahu pernyataan ini marilah kita mulai merubah sifat, sikap, etika dan kebiasaan kita menjadi lebih baik lagi.

2.2  Sumber Daya Alam Negara Indonesia
            Sumber daya alam Indonesia sangatlah banyak, patutnya kita bersyukur atas rahmat Allah SWT yang telah memberikan itu semua, dengan cara mengelola semua itu dengan baik dan tidak merusaknya, memelihara keutuhan dan kelestariannya. Disamping itu semua kita juga harus menjaga, agar sumber daya alam di negeri kita tidak di rebut oleh negara lain, karena saat ini negara kita sangat terancam oleh negara asing yang ingin menguasai suatu hal yang ada di negara Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia ( BI) Agus DW Martowardojo menyatakan, Indonesia memiliki sejumlah modal untuk menjadi negara maju. Dengan demikian, pada kondisi itu, Indonesia diharapkan dapat memakmurkan dan menyejahterakan masyarakat. "Ekonomi Indonesia diperhitungkan dalam tataran global dan masuk 16 besar dunia. Demokrasi Indonesia terbesar ketiga di dunia," ujar Agus saat menyampaikan amanat sebagai Inspektur Upacara Hari Kemerdekaan RI ke-72 di Kompleks Perkantoran BI, Kamis (17/8/2017). Menurut Agus, potensi-potensi yang dimiliki Indonesia antara lain sumber daya alam yang melimpah.

2.3 Sumber Daya Manusia Negara Indonesia
Presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa Indonesia punya bekal kuat untuk berubah statusnya dari negara berkembang menjadi negara maju. Hal yang dimaksud yakni dengan banyaknya jumlah penduduk dan bermayoritas berusia produktif dan muda. Karenanya, fokus pada tahun 2020 akan digenjot peningkatan kualitas sumber daya manusianya. Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas adalah penting untuk menghadapi ekonomi digital.
“Bonus demografi harus diimbangi dengan kemajuan. Indonesia punya modal awal untuk bersaing di tingkat global, jumlah penduduk Indonesia adalah terbesar nomor 4 di dunia dan sebagian besar berusia muda,” ujar Presiden Jokowi saat menyampaikan Pidato Penyampaian Keterangan Pemerintah atas RUU APBN Tahun Anggaran 2020 Beserta Nota Keuangan dan Dokumen Pendukungnya di hadapan Rapat Paripurna di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (16/8/2019).
Presiden Jokowi meyakini jika peningkatan kualitas SDM adalah salah satu cara untuk mengantarkan Indonesia menjadi negara maju. Karena itu ia akan terus membangun sinergi dengan berbagai pihak guna mencapai tujuan tersebut. “Saya yakin pada fokus peningktaan SDM, Indonesia segera mewujudkan visinya untuk menjadi negara maju,” tutur Presiden Jokowi.
Selain memberikan motivasi tersebut, Presiden Jokowi juga menyampaikan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia ditengah pelemahan ekonomi global, negara-negara lain menurut catatannya mengalami pertumbuhan yang negatif.
“Ekonomi dunia masih mengalami ketidakpastian, bahkan beberapa negara pertumbuhannya negatif. Kita harus menghadapi perang dagang dan harus waspada. Saat negara lain ekonominya melambat, ekonomi kita mampu tumbuh,” ujar Presiden Jokowi.
Hal ini mengingatkan agar para pemangku kepentingan ini dapat mengubah situasi yang sulit menjadi sebuah kekuatan untuk bangkit. Sehingga, Bangsa Indonesia tidak ikut terpengaruh negatif sebagai akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi global.
“Kita harus mampu tumbuh, kita manfaatkan kesulitan sebagai kekuatan untuk bangkit dan indonesia maju, kuncinya adalah untuk terus meningkatkan daya saing nasional yang bertumpu pada kualitas SDM, karena pada tahun 2020 kita fokus tingkatkan kualitas SDM,” pungkas Presiden Jokowi.

2.4 Indonesia Berpotensi Menjadi Negara Maju
Chairman McKinsey Global Institute, Raoul Oberman mengatakan, Indonesia berpotensi menjadi negara maju pada 2030. Dan salah satu faktanya yang mendukung adalah 60 persen pertumbuhan ekonomi ditopang oleh peningkatan produktivitas.
Menurut Raoul, Indonesia memang memiliki waktu yang panjang untuk bisa menjadi negara maju. Jika diproyeksikan menjadi negara maju pada 2030, Indonesia perlu waktu 85 tahun untuk bisa menjadi negara maju.
Apalagi diperkirakan Indonesia akan melewati puncak dari bonus demografi antara tahun 2030-2045.
Meskipun bonus demografi berpotensi menjadikan Indonesia menjadi negara yang maju, tapi apakah MUNGKIN kita bisa memanfaatkan bonus demografi ini dengan baik?
Dapatkah kita mengoptimalkan bonus demografi ini agar bonus demografi benar-benar menjadi bonus bagi Indonesia dan bukan malah bencana?
Menurut dari HSBC Global Research, adanya bonus demografi membawa dampak yang positif bagi Indonesia. Salah satunya adalah meningkatnya minat investasi asing ke Indonesia.
Sebuah negara yang mengalami bonus demografi akan mengalami kemajuan di segala bidang terutama dalam bidang ekonomi. Ini bisa kita lihat dari sejumlah negara, seperti Tiongkok, Korea Selatan dan juga Thailand.
Sayangnya berbagai persoalan seperti kenakalan remaja, pergaulan bebas dan hingga tawarun sekolah seperti tidak ada habis-habisnya. Bahkan angka pengangguran sangat signifikan pasti naik tiap tahunnya. Ini bisa menjadi BUMERANG bagi bangsa ini. Bonus demografi ini justru akan menjadi ledakan yang SUPER EKSPLOSIF, yang membuat kemunduran Indonesia.
Untuk menyiapkan generasi yang berkarakter, percaya diri dan kompetitif, tak cukup hanya mengandalkan aktifitas pendidikan formal dalam kelas. Justru pendidikan informal dapat mempengaruhi mental anak dan remaja. Biasanya aktifitas pendidikan informal yang di desain konsep yang matang, terbukti melahirkan remaja yang percaya diri dan punya nyali untuk bersaing dan bertumbuh sesuai potensinya.

2.5 Situasi dan Kondisi Perekonomian Indonesia
Bukan sekali saja, Indonesia diprediksi menjadi salah satu powerhouse perekonomian dunia. Tahun lalu, firma konsultan global Price Waterhouse Cooper (PwC) menerbitkan laporan komprehensif berjudul “The Long View: How will the global economic order change by 2050?”. Dalam analisis ini, Indonesia yang pada 2016 berada di peringkat ke-8 ekonomi terbesar dunia, pada 2050 diproyeksikan naik menjadi peringkat ke-4, setelah Tiongkok, India dan Amerika Serikat.
Pada September 2012, McKinsey Global Institute (MGI) merilis laporan sejenis berjudul “The archipelago economy: unleashing Indonesia’s potential”. Isinya kurang lebih memprediksi hal yang sama, yaitu peningkatan perekonomian Indonesia, dari peringkat ke-17 pada 2012 menjadi peringkat ke-7 pada 2030.
Dua laporan ini mewakili begitu banyak analisis yang optimistis terhadap masa depan perekonomian Indonesia. Meski membesarkan hati, jangan membuat kita terlena (complacent), karena ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan guna merealisasikan potensi tersebut. Kita perlu memperhatikan dengan seksama berbagai asumsi yang dipergunakan dalam melakukan proyeksi tersebut.
Dalam laporan MGI secara eksplisit dijelaskan, ada dua syarat besar guna merealisasikan potensi perekonomian Indonesia.
Pertama, meningkatkan produktivitas perekonomian, yang salah satunya ditandai dengan peningkatan produktivitas tenaga kerja yang bertambah sekitar 60 persen pada periode 2010 hingga 2030 nanti.
Kedua, mampu memperbaiki kesenjangan perekonomian agar pencapaian pembangunan tak porak-poranda akibat kekacauan politik dan sosial. Hanya dengan dua cara tersebut, potensi menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia bisa terealisasi. Jika gagal diciptakan prasyarat tersebut, maka tentu saja potensi sulit direalisasikan Sama seperti MGI, proyeksi PwC juga mengandaikan selama 30 tahun ke depan perekonomian kita bisa tumbuh di atas 7 persen.
Sebuah asumsi yang pada hari ini sulit dibayangkan. Meski begitu, proyeksi tersebut menunjukkan betapa potensi perekonomian kita memang menjanjikan dan yang diperlukan adalah sebuah peta jalan untuk merealisasikannya, betapapun jalannya begitu terjal dan berliku. Perangkap Pertumbuhan Selama 4 tahun ini, kita berada dalam siklus pertumbuhan yang terus menurun. Pada 2011 lalu kita berada pada puncak pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 persen akibat booming harga komoditas. Setelah itu, seiring dengan jatuhnya harga komoditas, pertumbuhan ekonomi juga terus menyusut, menjadi 6,2 persen pada 2012 dan turun lagi menjadi 5,8 persen pada 2013. Pada 2015 kita berada di titik pertumbuhan terendah sebesar 4,88 persen dalam kurun waktu 5 tahun. Setelah itu, pola pertumbuhan mulai recovery, namun relatif lambat. Pada 2016 naik menjadi 5, 03 persen, pada 2017 menjadi 5,07 persen dan 2018 naik lagi menjadi 5,17 persen.
Meski mulai memasuki fase peningkatan, terkesan sangat lambat. Rasanya kita terperangkap pada pola pertumbuhan moderat sebesar 5 persen. Fakta ini tak bisa dihindari. Dunia tengah mencari titik keseimbangan dan fase stabilitas yang disertai pertumbuhan tinggi telah berakhir. Pola pertumbuhan global berubah drastis menjadi penuh ketidakpastian, tak sinkron satu kawasan dengan kawasan lain, serta pola pertumbuhan terus merosot.
Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok  hanyalah puncak gunung es dari fase pencarian titik temu perekonomian global ini. Dan nampaknya, fase pertumbuhan global ke depan penuh dengan dinamika yang menantang. Jika dalam situasi yang tak menguntungkan ini perekonomian kita masih bisa tumbuh di atas 5 persen, sudah merupakan kinerja yang baik.  Masalahnya, untuk meraih mimpi menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dan menjadi negara maju, maka kita perlu meningkatkan secara bertahap pertumbuhan kita menjadi rata-rata 6-7 persen dalam 10 tahun ke depan. Tentu tak mudah, namun perlu upaya yang sistematis dan berkelanjutan agar kita terbebas dari “perangkap negara berpenghasilan menengah”. 
Selama 4 tahun terakhir, pemerintah sangat progresif membangun infrastruktur. Dana yang dialokasikan juga meningkat setiap tahun. Apakah cukup?  Tentu tidak. Masalahnya, infrastruktur adalah prasyarat pokok yang harus dipenuhi. Meski tak mencukupi, namun dibutuhkan. Sehingga, mau tidak mau harus diupayakan. Pertanyaannya, apa setelah pembangunan infrastruktur? Saatnya menyusun peta jalan membangun basis perekonomian yang produktif dan berdaya saing, ditandai dengan peningkatan penerimaan dari sektor manufaktur berorientasi ekspor. Bagaimana kita bica mencapainya? Produktivitas Salah satu kunci agar kita bisa “naik kelas” menjadi bagian dari kelompok negara maju adalah membangun basis produksi dengan bertumpu pada prinsip produktivitas.
Produktivitas adalah ukuran untuk menilai seberapa kita mampu menghasilkan luaran (output perekonomian) dari sumber daya (faktor produksi) yang kita miliki. Paling tidak, ada dua sumber daya yang perlu kita upayakan agar mendorong perekonomian domestik.
·         Pertama, tenaga kerja yang selama ini dianggap menjadi salah satu kendala pokok dalam meningkatkan produksi domestik.
·         Kedua, modal yang masih relatif langka sehingga kita menggantungkan ketersediaannya dari pihak eksternal.
Lemahnya produktivitas perekonomian domestik ditandai dengan tak berkembangnya sektor industri manufaktur yang menghasilkan produk berorientasi ekspor. Defisit neraca transaksi berjalan pada 2018 yang nilainya sangat besar, yaitu sekitar US$ 31 miliar atau terburuk sejak 1975 merupakan early warning dalam membangun perekonomian domestik. Dalam dua tahun terakhir, defisit transaksi berjalan terus membesar. Jika pada 2016 lalu hanya sebesar (-1,82) persen, pada 2017 sebesar (-1,6) persen, pada 2018 lalu melonjak menjadi (-2,98) persen. Defisit transaksi berjalan menunjukkan ketergantungan kita pada sumber daya eksternal dalam mendorong perekonomian kita.
 Dengan kata lain, jika ingin tumbuh lebih tinggi, maka diperlukan transformasi perekonomian agar sumber daya domestik lebih kuat.
·         Pertama, meningkatkan ekspor non-migas agar lebih banyak penerimaan dalam bentuk valuta asing masuk pada perekonomian kita. Neraca non-migas memang masih surplus, namun jumlahnya terus menurun. Pada 2016 lalu neraca non-migas surplus sebesar US$ 19 miliar dan pada 2018 lalu turun menjadi US$ 11 miliar. Ekspor produk non-migas naik, namun kalah dengan kenaikan impor. Penerimaan devisa dalam jumlah besar dari neraca barang non-migas akan menjadi penanda daya saing sektor industri. Penerimaan yang masuk menandakan produk non-migas kita punya daya saing dan mampu menopang aktivitas perekonomian domestik, melalui penciptaan lapangan kerja.
·         Kedua, meningkatkan penerimaan dari sektor pariwisata yang memang dalam beberapa tahun terakhir sudah mengalami peningkatan cukup signifikan. Jika pada 2016 lalu, wisatawan asing yang datang sekitar 12 juta, pada 2018 lalu sudah mencapai 14 juta dari 15 juta yang ditargetkan. Meski meningkat, namun bila dibandingkan dengan jumlah wisatawan asing negara tetangga, kita masih sangat tertinggal. Malaysia misalnya, jumlah wiasatawan yang datang mencapai 25 juta, sementara Thailand sekitar 35 juta. Perlu upaya yang terarah untuk terus meningkatkan jumlah wisatawan asing ke berbagai destinasi wisata yang disiapkan secara komprehensif, mulai dari transportasi, perhotelan serta sarana logistik lainnya.
·         Ketiga, mengurangi beban neraca migas yang terus mengalami defisit dari tahun ke tahun. Jika pada 2016 lalu defisit neraca migas mencapai US$ 4,7 miliar, pada 2018 defisit melonjak menjadi US$ 11,5 miliar. Kilang minyak di Cilacap (Katadata) Untuk menopang dinamika perekonomian domestik, kita terus meningkatkan kebutuhan impor migas. Harus dicari jalan keluar yang komprehensif dari yang paling ideal, yaitu mengurangi penggunaan energi fosil melalui peningkatan produksi energi terbarukan hingga cara yang paling pragmatis, seperti membeli kilang minyak di negara lain sehingga impor migas akan tercatat sebagai penerimaan pemerintah.
·         Keempat, membangun basis industri penghasil bahan baku secara masif. Kita tahu, kebutuhan konsumsi dan investasi kita masih sebagian besar dipenuhi dari bahan baku dan bahan penolong impor. Tanpa ada upaya membangun industri penghasil bahan baku, kita akan terus tergantung pada impor sehingga membebani neraca transaksi berjalan. Pendek kata, untuk mencapai mimpi menjadi negara maju, tak bisa membiarkan dinamika perekonomian bergerak sendiri tanpa arah dan strategi. Potensi memang besar, namun tantangan juga tak ringan. Karena itu, diperlukan upaya yang sistematis dan berkelanjutan, agar potensi menjadi negara maju, salah satunya ditandai dengan naiknya peringkat perekonomian dari sisi output. Tak ada jalan yang mudah, namun bukan berarti tak mungkin. Hanya perlu kerja keras.

BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Pada intinya kita harus saling menghargai & menjaga etika, karena etika adalah salah satu cara menjaga Ambisi, dimana ambisi yang kita maksud adalah rasa ingin mendapatkan gelar sebagai Negara Maju, selain itu berpola fikir maju sangat di butuhkan untuk mewujudkan mimpi tersebut, kita harus lebih banyak bertindak dan berfikir, buang rasa malas-malasan dan bangun rasa semangat untuk menjadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Dan yang terpenting kita harus tahu bahwa kita memiliki sumber daya alam yang melimpah, kita harus bisa menjaga keutuhan & kelestariannya, Mengolah dengan baik agar bisa dimanfaatkan dengan maksimal, selain itu kita harus bisa memproduksi bukan hanya menjadi manusia yang konsumtif, jika kita sudah bisa melakukan itu semua, perlahan tapi pasti kita akan menjadi negara yang di katakan sebagai Negara Maju, ingatlah perkataan ini “ Hal kecil sangatlah berpengaruh dan bisa membuat perubahan besar, oleh karena itu jangan pernah menyepelekan hal kecil, dan teruslah berusaha untuk menjadi yang terbaik diantara yang baik.”

3.2  Saran
Dalam penulisan makalah ini tentunya mempunyai kekurangan dan kelebihan, baik dalam segi penyampaian isi, kedepannya penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber-sumber yang lebih banyak lagi. Untuk saran bisa dapat berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa untuk menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah dijelaskan.

DAFTAR PUSTAKA

Setiawan, Sakina Rakhma Diah. 2017.  Artikel. 72 Tahun Merdeka, Indonesia Berpotensi Jadi Negara Maju. Dalam https://ekonomi.kompas.com/ read/2017/08/17/120100026/72-tahun-merdeka-indonesia-berpotensi-jadi-negara-maju?page=all. diakses pada 29 Desember 2019.
Prasetyantoko, A., Syahrul, Yura ( Ed.). 2019.  Artikel. Mimpi Indonesia Menjadi Negara Ekonomi Besar. Dalam https://katadata.co.id/opini/2019/09/11/ mimpi-indonesia-menjadi-negara-ekonomi-besar diakses pada 29 Desember 2019.
Admin Situs Dewan Perwakilan Rakyat. 2019. Artikel. Indonesia Berpotensi Menjadi Negara Maju. Dalam http://www.dpr.go.id/berita/detail/id/ 25605/t/Indonesia+Berpotensi+Menjadi+Negara+Maju diakses pada 29 Desember 2019.
Makki, Saffir. 2019. Artikel. Indonesia Butuh 17 Tahun Lagi Jadi Negara Maju. Dalam https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190108150234-532-359 304/indonesia-butuh-17-tahun-lagi-jadi-negara-maju diakses pada 29 Desember 2019.




Wednesday, September 18, 2019

Hidayah & Taufiq | Pendidikan Agama Islam

  
 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

            Puji syukur saya kita panjatkan kepada Allah SWT, karena Hidayah-Nya dan Rahmat-Nya saya bisa membuat artikel hari ini.
Kali ini saya akan membagikan ilmu yang sudah saya dapat hari ini, yaitu Mata Kuliah Agama. Yang akan dibahas yaitu Hidayah & Taufiq..

Sebelumnya saya ingin bertanya kepada kalian semua, Apasih tujuan kalian Beragama ?
*monggo dijawab dalam hati :D





Tujuan Beragama

=>  Untuk mendapatkan kebahagiaan di Dunia & di Akhirat, serta mendapatkan Ridha Allah SWT agar ditempatkan di Surga-Nya kelak.

" Hidayah & Taufiq "

-          Taufiq. Kata ini berasal dari kata wafaqa yang berarti kesesuaian antara dua hal. Dari sini berkembang maknanya menjadi: kesesuaian antara perbuatan manusia dengan takdir Allah SWT. Dengan demikian, secara sederhana taufiqbermakna: ‘kesesuaian antara keinginan manusia dengan kehendak Allah SWT’.

-          Hidayah sama artinya dengan hadiah, arti aslinya “ Pemberian dengan lemah lembut”.

Hidayah terbagi menjadi 4 yaitu :

Pertama, hidayah insting, naluri (gharizah).
Sejak lahir, manusia sudah diberikan hidayah yang satu ini. Misalnya pada saat bayi lapar atau sakit ia menangis. Naluri ini pun terus berkembang seiring dengan perkembangan tubuh manusia, seperti munculnya naluri untuk mempertahankan diri, naluri memperoleh kemajuan, naluri seksual dan lain- lain.
Manusia dan binatang sama- sama diberikan hidayah naluri. Perbedaannya adalah bahwa binatang itu seluruh hidupnya dikendalikan oleh nalurinya, sehingga dalam hal- hal tertentu atau pada jenis binatang tertentu nalurinya jauh lebih baik daripada manusia. Seperti anjing pelacak, sistem kehidupan pada masyarakat rayap, lebah dan lain- lain, semuanya karena ketajaman nalurinya.
Kedua, hidayah indera
Kita mengenal adanya panca indera, yaitu indera penglihatan, pendengaran, pengecap, penciuman dan perasa/ peraba. Dengan bekal indera yang dimilikinya, manusia mampu melakukan berbagai aktifitas yang diinginkannya. Sejak lahir manusia sudah diberikan inera oleh Allah SWT, tetapi pada saat itu sebagian dari inderanya belum berfungsi, seperti penglihatan, pendengaran dan penciuman. Allah SWT berfirman.
والله اخرجكم من بطون امهاتكم لاتعلمون شيأوجعل لكم السمع والابصاروالافئدةلعلكم تشكرون
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, lalu Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An- Nahl: 78)
Selain manusia, binatangpun diberikan indera oleh Allah SWT. Bahkan pada jenis binatang tertentu, inderanya jauh lebih bagus daripada manusia. Banyak jenis binatang yang begitu lahir inderanya sudah berfungsi; Bisa melihat, mendengar, dan mencium, seperti ayam, itik, kambing, kerbau dan lain- lain. Bahkan banyak pula jenis binatang yang begitu lahir/ menetas sudah mampu hidup mencari makanan sendiri tanpa bantuan induknya, seperti ular, buaya, komodo, ulat dan lain- lain. Tak pernah ada dalam sejarah umat manusia, begitu lahir sudah mampu mencari makanan sendiri. Semuanya lahir dalam keadaan lemah dan sangat lemah, tak tahu apa- apa. Maka indera dan naluri manusia kalah oleh binatang.
Ketiga, hidayah aqliyah.
Manusia sebagai makhluk yang lemah dari segi fisiknya oleh Allah SWT diberikan hidayah yang tidak diberikan kepada binatang, yaitu hidayah aqliyah (hidayah akal). Sehingga karena akalnya manusia dianggap sebagai makhluk yang paling sempurna dan dimuliakan oleh Allah SWT. Allah SWT
ولقدكرمنابنى ادم وحملنهم فى البروالبحرورزقنهم من الطيبت وفضلنهم على كثيرممن خلقناتفضيلا.
Artinya:
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak- anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik- baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al- Isra: 70)
Akal bisa meneropong dan menembus sesuatu yang ada di balik yang nyata. Kedudukannya lebih tinggi dari pada indera. Bila mata melihat gunung dari jarak yang sangat jauh, maka akan terlihat gunung itu berwarna biru. Bila ditanyakan kepada akal ia akan menjawab tidak, melainkan warnanya hijau. Yang benar tentu saja akal. Bila mata melihat rel kereta api yang panjang, jauh dan lurus, maka rel itu seperti menyatu dalam sebuah titik. Sehingga kalau kita menggambar rel kereta api, diawali dengan sebuah titik yang kemudian ditarik ke depan. Bila ditanyakan kepada akal, apakah benar rel itu menyatu dalam sebuah titik ? Akal akan menjawab: tidak. Yang benar adalah akal. Ini hanya contoh kecil bahwa kedudukan akal lebih tinggi daripada indera.
Dengan akal pula manusia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dapat mempertimbangkan mana yang harus dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan. Sehingga karena akalnya manusia membuat aturan/ norma dalam kehidupannya, baik kehidupan individu maupun kehidupan bermasyarakat, agar kehidupannya teratur.
Akal inilah yang membedakan manusia dengan binatang. Karenanya jika manusia menggunakan akalnya dengan baik, ia akan menjadi makhluk Allah yang mulia, lebih tinggi kemuliaannya daripada malaikat. Sebaliknya jika ia tidak mampu mempungsikan akalnya dengan benar, apalagi merusak akalnya dengan mengkonsumsi makanan atau minuman yang merusak akal, ia akan dijatuhkan menjadi makhluk yang hina dina, lebih rendah derajatnya dari pada binatang.
Akan tetapi, akal yang mempunyai kemampuan melihat sesuatu di balik yang nyata, ternyata ia mempunyai keterbatasan kemampuannya. Jika sudah masuk ke dalam dimensi yang ghaib, akal angkat tangan. Seperti ke mana selanjutnya roh manusia yang sudah meninggal ? Jika sudah meninggal kelanjutan nasib roh manusia bagaimana ? Apa itu syurga dan neraka ? Akal tak sanggup menjawabnya, kecuali hanya kira- kira atau kemungkinan saja. Maka Allah SWT yang Maha Rahman dan Maha Rahim pada hamba-Nya, terutama pada manusia, Ia memberikan hidayah yang paling tinggi yaitu hidayah diniyah.
Keempat, Hidayah Diniyah (hidayah agama)
Hidayah agama adalah hidayah yang paling tinggi yang hanya diberikan kepada manusia. Hidayah agama akan memberikan bimbingan dan petunjuk kepada manusia agar selamat dan bahagia baik di dunia maupun kehidupan setelah meninggal dunia. Dengan agama manusia akan dituntunnya ke jalan yang benar yang diridhai-Nya.
Semua hidayah adalah pemberian dari Allah. Tidak ada manusia manapun yang dapat memberikan petunjuk, meskipun ia seorang Rasul Allah. Manusia hanya dapat bertindak sebagai perantara dan memberikan jalan untuk menyempaikan petunjuk dari Allah SWT. Misalnya: Nabi Nuh tidak bisa memberikan petunjuk kepada putranya, Kan’an. Nabi Luth tidak bisa membimbing isterinya ke jalan Allah. Nabi Muhammad SAW tidak bisa meng-Islam-kan pamannya Abu Thalib, meskipun selalu bersamanya selama lebih kurang 35 tahun, dan pamannya itu mati dalam keadaan kafir. Allah SWT berfirman.
انك لاتهدي من احببت ولكن الله يهدي من يشاء وهواعلم بالمهتدين
Artinya:
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang- orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al- Qashash: 56)

Maka hidayah itu adalah hak prerogatif Allah SWT yang akan diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Kita manusia hanya sebatas berusaha dan terus berdo’a agar Allah SWT selalu membimbing ke jalan yang diridhai-Nya. Hal ini diisyaratkan di dalam Al- Qur’an Surat Al- Fatihah:
اهدناالصراط المستقيم. صراط الذين انعمت عليهم غيرالمغضوب عليهم ولاالضالين.
Artinya:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang- orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al- Fatihah: 6-7)
Setelah mengetahui tentang Hidayah, mari kita mempelajari Karakteristik Agama 

  1. Rabbaniyah
Karakter agama Islam yang pertama ialah Rabbaniyah, yang memiliki arti bahwa Islam merupakan agama yang bersumber dari Allah Swt, bukan dari manusia, sedangkan Nabi Muhammad Saw tidak membuat agama ini melainkan hanya menyampaikannya.
Allah SWT berfirman QS. 32: 1-3 yang artinya:

“Alif Laam Miim. Turunnya Al Qur’an yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam. Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: “Dia Muhammad mengada-adakannya”. Sebenarnya Al Qur’an itu adalah kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.”

Dengan karakteristik ini, Islam sangat berbeda dengan agama manapun yang ada di dunia pada saat ini. Karena semua agama selain Islam, adalah buatan manusia, atau paling tidak terdapat campur tangan manusia dalam pensyariatannya.

  1. Insaniyyah
Karakteristik Islam yang ke-2 adalah insaniyyah, artinya bahwa Islam memang Allah jadikan pedoman hidup bagi manusia yang sesuai dengan sifat dan unsur kemanusiaan. Islam bukan agama yang disyariatkan untuk malaikat atau jin, sehingga manusia tidak kuasa atau tidak mampu untuk melaksanakannya. Oleh karenanya, Islam sangat menjaga aspek-aspek ‘kefitrahan manusia’, dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang terdapat dalam diri manusia itu sendiri. Sehingga dari sini, Islam tidak hanya agama yang seolah dikhususkan untuk para tokoh agamanya saja (baca: ulama). Namun dalam Islam semua pemeluknya dapat melaksanakan Islam secara maksimal dan sempurna. Bahkan bisa jadi, orang awam akan lebih tinggi derajatnya di hadapan Allah dari pada seorang ahli agama. Karena dalam Islam yang menjadi standar adalah ketakwaannya kepada Allah.

  1. Syumuliyah
Artinya bahwa Islam merupakan agama yang universal yang mencakup segala aspek kehidupan manusia. Kelengkapan ajaran Islam itu nampak dari konsep Islam dalam berbagai bidang kehidupan mulai dari urusan pribadi, keluarga, masyarakat sampai pada persoalan-persoalan berbangsa dan bernegara. Kesyumuliyahan tidak hanya dari segi ajarannya yang rasional dan mudah diamalkan tapi juga keharusan menegakkan ajaran Islam dengan metodologi yang Islmai. Karena itu, di dalam Islam kita dapati konsep tentang dakwah, jihad dan sebagainya.
Dengan demikian, segala persoalan ada petunjuknya dalam Islam.  Allah berfirman dalam Q.S An-Nahl : 89 yang artinya : 
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
  1. Al-Wasathiyah/al-Tawazun (pertengahan/moderat)
Wasatiyyah memiliki arti bahwa Islam merupakan agama yang bersifat moderat. Agama yang mengajarkan pada pemeluknya agar tidak condong pada kehidupan materi saja akan tetapi dapat memperhatikan keseimbangan  kehidupan dunia dan akhirat, spiritual dan material.
Ini bersesuaian dengan maksud firman Allah s.w.t di dalam surah Al-Baqarah 185 yang artinya :
“Allah menghendaki untuk kamu kemudahan dan tidak menginginkan kesukaran…“

Begitu juga dengan maksud sabda Rasulullah s.a.w dari Anas bin Malik r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda : “Permudahkanlah, janganlah memberat-beratkan, tenangkanlah janganlah meliarkan ….. “
  1. Al-Waqi’iyyah (kontekstual)
Karakteristik lain dari ajaran Islam adalah al waqi’iyyah (realistis), ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang dapat diamalkan oleh manusia atau dengan kata lain dapat direalisir dalam kehidupan sehari-hari. Islam dapat diamalkan oleh manusia meskipun mereka berbeda latar belakang, kaya, miskin, pria, wanita, dewasa, remaja, anak-anak, berpendidikan tinggi, berpendidikan rendah, bangsawan, rakyat biasa, berbeda suku, adat istiadat dan sebagainya.
Disamping itu, Islam sendiri tidak bertentangan dengan realitas perkembangan zaman bahkan Islam menjadi satu-satunya agama yang mampu menghadapi dan mengatasi dampak negatif dari kemajuan zaman. Ini berarti, Islam agama yang tidak takut dengan kemajuan zaman.
  1. Al-Wudhuh (terang/jelas)
Karakteristik penting lainnya dari ajaran Islam adalah konsepnya yang jelas (Al Wudhuh). Kejelasan konsep Islam membuat umatnya tidak bingung dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam, bahkan pertanyaan umat manusia tentang Islam dapat dijawab dengan jelas, apalagi kalau pertanyaan tersebut mengarah pada maksud merusak ajaran Isla itu sendiri.
Dalam masalah aqidah, konsep Islam begitu jelas sehingga dengan aqidah yang mantap, seorang muslim menjadi terikat pada ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Konsep syari’ah atau hukumnya juga jelas sehingga umat Islam dapat melaksanakan peribadatan dengan baik dan mampu membedakan antara yang haq dengan yang bathil, begitulah seterusnya dalam ajaran Islam yang serba jelas, apalagi pelaksanaannya dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

  1. Al-Takamuliyah (Integrasi)
Karakteristik islam Al-Takamuliyah memiliki arti integrasi, yaitu bahwa agama Islam mengajarkan penganutnya untuk mengimplikasikan integrasi semua hal ke dalam ruh Islam.

Dan yang terakhir adalah Ibadah.
Melakukan Ibadah kepada Allah secara Vertikal, dan Bersosialisasi secara horizontal dengan sesama Manusia.

Ibadah terbagi menjadi 2 yaitu 
1. Mahdhah
Artinya  penghambaan yang murni hanya merupakan hubung-an antara hamba dengan Allah secara langsung. 
- Syahadat
- Sholat
- Puasa
- Zakat
- Haji
2. Ghoiru Mahdhah
(tidak murni semata hubungan dengan Allah) yaitu ibadah yang di samping sebagai hubungan  hamba dengan Allah juga merupakan hubungan atau interaksi antara hamba dengan makhluk lainnya . 
Ibadah Ghoiru Mahdhah yaitu :
Syariat Ibadah
- Sistem Keluarga ( Pernikahan )
- Tijaroh Perdagangan
- Pembagian Waris
- Sistem Pidana
- Sistem Perdata
- Perkembangan IPTEK

Mungkin cukup sekian artikel hari ini, maaf bila ada salah kata.
Terima kasih untuk semuanya Saya Dio Wira Dhiama pamit..

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ;)